Kamis, September 23News That Matters

EFEK PANDEMI PICU KEKERASAN TERHADAP ANAK DAN PEREMPUAN DI TANGSEL NAIK

Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) mencatat, ada 89 kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan. Angka tersebut merupakan akumulasi pada Januari hingga Juli 2021.

“Kasus kekerasan yang kita tangani periode Januari sampai dengan Juli 2021 ada 89 kasus, terdiri dari anak laki-laki 20 kasus, anak perempuan 36 kasus, dan perempuan dewasa 33 kasus,” ujar Kepala UPTD P2TP2A Kota Tangsel, Tri Purwanto di Kota Tangsel, Provinsi Banten, Ahad (8/8).

Menurut dia, angka tertinggi kekerasan terhadap anak dan perempuan tercatat terjadi pada April 2021 sebanyak 23 kasus. Tri menyebut, mayoritas kekerasan yang terjadi meliputi seksual dan psikis. Kasus tersebut terjadi di berbagai wilayah di Kota Tangsel.

“Paling banyak di tiga wilayah, yang sekarang lagi kita pantau di Kecamatan Pamulang, Ciputat, dan Pondok Aren. Tiga wilayah itu termasuk tinggi kasus kekerasannya,” terangnya.

Tri menjelaskan, data kekerasan anak dan perempuan tersebut merupakan kumpulan dari berbagai referensi. Di antaranya, rujukan dari kepolisian, Komnas HAM, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), dan lembaga masyarakat, serta sejumlah laporan yang masuk ke UPTD P2TP2A Kota Tangsel.

Tri mengatakan, mayoritas informasi kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan diperoleh dari adanya pengaduan. Usai mengadu, sambung dia, para korban ditindaklanjuti dengan memberikan fasilitas konseling psikolog. Pihaknya juga mendampingi jika korban kekerasan ingin melaporkan ke polisi.

“Biasanya yang mengadu kita minta cerita kronologisnya, sesudah tahu kita tindaklanjuti, kita datangi korban ataupun keluarga korban, baru kita fasilitasi,” tutur Tri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *